2020-11-18

Tetap Waspada dan Antisipasi Saat Datangnya Fenomena La Nina

BPTP KALIMANTAN TIMUR
...

Fenomena La Nina merupakan kondisi penyimpangan (anomali) suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normalnya sehingga terjadi peningkatan curah hujan hingga 40%. Oleh karena itu, maka perlu diantisipasi terlebih lagi di musim hujan karena dapat menyebabkan bencana seperti banjir, tanah longsor, gelombang tinggi dan angin kencang.

BPTP Balitbangtan Kaltim bekerjasama dengan PERHIMPI (Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia) Wilayah Kalimantan Timur menyelenggarakan webinar secara virtual dengan mengangkat tema “Antisipasi La Nina Terhadap Musim Tanam Ok-Mar” (18/11). Webinar ini dipandu oleh Dr Muhammad Amin, SPi M.Si (Ka BPTP Kaltim) dan penyampaian beberapa materi narasumber yaitu Dr Ir Yayan Apriyana, M.Sc (Peneliti Agroklimat-BBSDLP), Riza A.N S.Si M. Ling (Ka Stasiun Meteorologi Samarinda), Dr A. Syamad Ramayana (Dosen UNMUL sekaligus Ketua PERAGI Kaltim), serta Dr Ir.Muhammad Hidayanto MP (Peneliti BPTP Kaltim sekaligus Ketua PERHIMPI Kaltim).

Acara Webinar dibuka oleh Bupati Bulungan (H.Sudjati S.H) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas terselenggaranya acara Webinar “Antisipasi La Nina Terhadap Musim Tanam Ok-Mar” dalam mempertahankan Ketahanan Pangan. Beliau berharap acara ini dapat memberikan alternatif pemecahan masalah dampak La Nina dan khususnya dalam mengelola manajemen tata air.

Materi pertama disampaikan oleh Dr Ir Yayan Apriyana, M.Sc dengan judul Program, Kebijakan dan Tantangan pada Sektor Pertanian. Salah satu dampak perubahan iklim dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman sehingga terjadi penurunan produktivitas pangan. Menghadapi dampak La Nina pada Musim Hujan 2020/2021 menanganan lebih difokuskan pada wilayah dengan curah hujan tinggi dan rawan banjir. Antisipasi dapat dilakukan dengan memonitoring kondisi dan prediksi curah hujan, penggunaan Varietas Toleran Genangan dan Toleran OPT, Konservasi Air, Normalisasi Saluran, Bantuan Benih dan Pupuk serta Asuransi Pertanian.

Materi kedua disampaikan oleh Riza A.N S.Si M.Ling. Dalam hal ini beliau menyampaikan bahwa BMKG memprediksikan pada musim hujan tahun 2020/2021 merupakan fenomena iklim global La Nina yang terjadi sejak awal Oktober 2020. La Nina Periode September-November terjadi signifikan. Berdasarkan update data Dasarian I November diprediksi akan berlangsung hingga Mei 2021 dengan Katagori La Nina moderat.

Menurut Riza, dampak La Nina tergantung pada Intensitas, musim dan kondisi masing-masing wilayah, sehingga dengan diketahui prediksi data cuaca BMKG ini diharapkan dapat memberikan langkah kebijakan untuk mengantisipasinya khususnya untuk dampak bidang pertanian. Beberapa langkah mitigasi juga dapat di optimalisasi melalui tata kelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, pengoptimalisasi fungsi danau embung sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Dr A. Syamad Ramayana terkait peran air dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta antisipasi La Nina. Air memiliki peran penting dalam metabolisme tanaman. Bagian dari protoplasma, air membentuk 85-90% dari berat keseluruhan bagian hijau tanaman (jaringan yang sedang tumbuh). Dengan curah hujan tinggi, maka dapat terjadi kelebihan air bagi tanaman yang dapat mengganggu proses metabolisme. Hal ini bisa terjadi pada saat hujan lebat, drainase buruk, serta pengelolaan irigasi buruk.

Dr Muhammad Hidayanto menyebutkan bahwa 45% awal Musim Hujan 2020/2021 diprediksi “datang terlambat” untuk beberapa wilayah, khususnya Kaltim-Kaltara. Keterlambatan ini terjadi antara 10-30 hari. Prakiraan puncak musim hujan di Kalimantan diperkirakan terjadi antara Desember-Februari 2021. “Adapun fenomena La Nina ini tidak hanya berdampak negatif saja, namun juga ada dampak positifnya,” jelasnya. Dampak positif dari fenomen La Nina dalam sektor pertanian antara lain: dapat memberikan peluang percepatan tanam, peningkatan luas tanam, penetralan pada lahan pasang surut, serta menurunnya tingkat salinitas di lahan pesisir.

Selain itu, juga disampaikan beberapa upaya strategi dan aksi antisipasi dampak La Nina disektor pertanian, antara lain: pemetaan daerah rawan, peringatan dini, pembentukan brigade La Nina, Pompanisasi dan rehabilitasi saluran, optimalisasi surjan/bedengan (dengan tanaman hortik), penggunaan varietas tahan genangan dan serangan OPT, optimalisasi opsin, asuransi TUP, Optimalisasi Lahan kering, Sistem KATAM.

Diakhir acara Dr Harris Syahbuddin, DEA selaku Sekretaris Balitbangtan/Sekjen PERHIMPI memberikan arahan sekaligus menutup acara Webinar. Dr Harris dalam arahannya menyampaikan saat ini teknologi pertanian sangat '”abundant”' berlimpah ruah, mudah dan cepat di akses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Melalui teknologi yang ada saat ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Keberhasilan itu tentunya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan dukungan yang kuat antara seluruh stakeholder di daerah.

Sub Sektor : Lain-Lain
Komoditas : Lain-Lain
Teknologi yang Digunakan : KATAM
http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=1292:tetap-waspada-dan-antisipasi-saat-datangnya-fenomena-la-nina&catid=4:info-aktual&Itemid=5